Selasa, 16 Februari 2016

author photo
bentar Dibaca
Aku duduk di ujung kafe, memandangi laptop yang nyaris tiga jam menyala. Ini sudah ketiga kalinya aku memesan kopi. Vanila latte, lalu espresso dan terakhir cappuchino yang tersisa setengahnya. Entah, jika ada cangkir kopi keempat, aku tak tahu akan memesan kopi apa lagi.

Setengah jam lagi aku berjanji dengan salah seorang wartawan koran nasional untuk interview. Katanya, jam empat sore ini, seorang jurnalis bernama Dini akan mewawancaraiku.

Aku menyesap kopiku lagi. Rasanya kepalaku sudah nyaris meledak. Ini sudah ketiga kalinya aku harus merevisi draft novelku. Editorku, Nico sudah menagih naskah ini sejak kemarin.

"Penulis bestseller masa revisi gitu aja lama banget." Katanya tempo lalu.

Rasanya aku ingin membungkam mulutnya. Novel yang sedang kuedit ini berbeda dari sebelumnya. Ini kali pertama aku jujur terhadap tulisanku. Sebuah novel tentang perempuan yang kucintai dua tahun lalu. Mari kusebut dia mantan istriku.

Kami bercerai setelah gagal menyamakan perbedaan dan persepsi kami. Dia yang akhirnya mengalah. Dan aku yang menjadi kalah karena menceraikannya sebelum perasaanku padanya padam.

Audiba Dinianty

Aku tak bisa berharap lebih. Cukup mengenang namanya. Terdengar bodoh memang.

Kuhabiskan kopi keempatku. Jurnalis yang katanya bernama Dini itu tak juga muncul. Aku melirik arlogiku. Mataku membelalak. Dia sudah terlambat lima belas menit. Wartawan macam apa yang membiarkan narasumbernya menunggu?

Aku kesal. Kupikir tak ada manusia yang membuatku menunggu terlalu lama selain Audiba Dinianty.

Aku membuang napas panjang, mematikan laptopku. Kubereskan barang-barangku di atas meja. Aku tak yakin akan memesan kopi keempatku kali ini. Jantungku sudah cukup berdebar.

Aku akan bangkit ketika salah seorang perempuan menghadang langkahku. Dia memakai masker dengan topi hitam yang menutupi kepalanya. Meski samar, aku bisa mendengar deru napasnya yang terburu. Seperti habis dikejar satpol PP.

"Maaf saya terlambat."

Dia berbicara padaku dengan masker masih menutupi mulutnya. Suaranya aneh, seperti dibuat-buat.

"Maaf?" jawabku bingung.

Dia lalu mengacungkan kartu persnya. A. DINIANTY, nama yang tertera di kartu itu. Meski sempat curiga, namun aku memilih untuk tak peduli. Dia sudah membuatku menunggu terlalu lama.

"Maaf, Anda terlambat dan saya harus pulang." jawabku lalu berlalu meninggalkannya.

Aku baru berjalan lima langkah ketika seseorang menarik kerah bajuku dengan paksa.

Aku kaget, membalikkan badan. Rasanya aku sudah siap marah, namun kurasa jantungku melorot sampai lutut. Perempuan itu membuka maskernya, matanya memandang tajam ke arahku.

"Kamu makin sombong, ya?"

"DIBA!!"

Masa laluku seolah terpelanting tepat di depan mataku. Aku pernah mencintai seseorang yang selalu datang terlambat. Aku pernah mencintai perempuan yang sekarang berdiri di depanku. Aku pernah tak bisa berkata-kata di depan perempuan itu. Audiba Dinianty. Kini jantung dan kepalaku menjadi kurang waras.


----


Hallo, akhirnya story blog tour dari OWOP satu kembali lagi. Saya Tutut Laraswati kali ini mendapatkan kesempatan pertama memulai kisah ini. Episode selanjutnya ada di blog RIFDAH . So, stay tune!




STOP WISHING, START WRITING
oneweekonepaper.com

This post have 0 comments


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post